Indonesia Untuk Penghasil Kayu Terbesar (Program Masa Depan)

27 10 2010

Sekarang, Indonesia rupanya sedang bingung saat menentukan apakah akan menstop penebangan hutan yang faktanya sudah tinggal sedikit, ataukah dengan menanam sebanyak-banyaknya sehingga pada saatnya nanti, tiba-tiba saja Indonesia kaya dengan hasil hutan.  Menarik, bukan?

Perlu disadari, bahwa untuk menghasilkan luasan hutan dengan density(kepadatan) pohon seperti di Kalimantan, Sumatra dan Papua pada beberapa masa lalu sangat susah. Hal ini dibatasi dengan kemampuan tumbuh pohon, lingkungan, iklim, dan kemampuan adaptasi pohon.

Berbeda dengan dunia pertanian, seorang petani dengan tanaman padi kualitas unggul, dewngan perawatan yang baik dan lingkungan iklim sekitar yang memadai akan menghasilkan bulir padi yang dapat dipanen 3 bulan. bandingkan dengan pohon yang dalam pertumbuhannya memerlukan asupan yang lebih banyak karena harus memadatkan batang kayunya. Untuk itu, suatu spesies pohon kehutanan hanya mampu dipanen minimal 5 tahun sekali. Artinya pohon baru bisa ditebang 5 tahun setelah menanam. Sebagian besar spesies malah lebih lama. Contohnya jati yang umumnya baru bisa dipanen pada umur 30-50 tahun, tergantung pada tingkat kesuburan tanah tempat tumbuh (bonita). Maka, perlu cara yang cerdik agar negara ini bisa menjadi penghasil kayu terbesar dalam waktu yang relatif singkat.

Tapi apa tidak mustahil?

Tidak mustahil jika kita terus berpikir cara terbaiknya. lalu sekarang, apa yang kita lakukan? Jawabnya tidak ada cara lain selain penanaman. Ini yang menarik. Di dunia yang serba instan ini, semua kita harapkan bisa kita dapat secara instan. Untuk menyelesaikan masalah ini, cara yang harus kita pakai hanya cara tradisional, penanaman. Tapi tekniknya harus sudah modern. (Tradisional tetapi modern). Tradisional karena kita harus repot-repot menanam, namun teknik modern, sesuai dengan kebutuhan.

Penanaman harus dilakukan besar-besaran. Bisa saja akan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Mungkin lebih baik diadakan Tahun Menanam 2011 agar program ini sukses. Dengan adanya program ini, masyarakat di harapkan dapat berpartisipasi menanam dan memelihara pohon (kemudian disebut Pohon Asuhan). Pohon yang ditanam adalah pohon Fast Growing Species (yang cepat tumbuh), misalnya jabon, sengon, acacia, dll. Dengan begitu, pada +- 5 tahun kemudian, dapat kita bayangkan berapa banyak pohon yang akan kita hasilkan bersama.Bekerja bersama itu sangat mengasyikkan. Ibarat kita berpuasa Ramadhan, semua kaum muslim berpuasa sehingga puasa itu seperti hanya kebiasaan saja.

Untuk langkah selanjutnya, perlu adanya program lanjutan. Saat pohon siap tebang (masa daur pohon), maka diperlukan industri terkait. Untuk kayu sengon dan jabon, industri yang bisa kita lirik misalnya industri pulp, industri papan partikel, veneer, dll. Produksi dapat dilakukan secara besar besaran. Setelah itu, hasilnya akan kembali kepada kita berupa uang pembelian ataupun produk, tanpa impor.

Dengan adanya program berkelanjutan seperti ini, akan ada beberapa keuntungan :

1. Negara Indonesia dapat dikenal sebagai negara penghasil kayu terbesar di dunia.

2. Negara Indonesia dikatakan sebagai penyelamat lingkungan karena telah membuat hijau seluruh Indonesia, juga mengurangi emisi karbon dunia.

3. Masyarakat memiliki modal dan pekerjaan yang berlimpah. Dengan adanya penanaman pasti banyak pekerjaan baru yang akan menggaji mereka.

4. Munculnya industri-industri perkayuan yang juga akan menambah mata pencaharian masyarakat.

5. Keuntungan dari pohon asuhan yang cukup besar, kemiskinan otomatis berkurang!

6. Mendidik anak-anak Indonesia menjadi peduli lingkungan.

7. Devisa dari ekspor kayu.

Kerugian :

1. Pohon yang ditanam bisa merusak ekosistem yang ada (karena kemampuan tumbuhnya lebih cepat dari pohon hutan alam).

2. Bisa ada serangan hama dan penyakit terhadap pohon (perlu ahli kehutanan.^_^)

3. Pencurian kayu (dapat diminimalisasi karena dijaga oleh masyarakat)

4. Pemerintah harus bekerja ekstra karena harus melakukan sosialisasi (Itulah fungsi mereka, toh!).





Solusi Banjir di Tanah Air

21 10 2010

Melanjutkan pembahasan saya yang sebelumnya, saya ingin memberikan sedikit solusi yang dapat diterapkan untuk kota-kota yang sering terkena banjir, contohnya Jakarta dan juga untuk kota-kota lain yang juga rawan banjir. Masalah banjir adalah masalah lingkungan. Tidak bisa yang lain. Maka, jika ingin menyelesaikannya, perlu ada sedikit ataupun banyak perubahan kearah alam yang harus dilakukan. Perubahannya memang tidak bisa langsung. Namun, bertahap, sedikit-demi sedikit. Namun, saya percaya perubahan ini akan benar-benar terasa di kemudian hari. Kata dosen saya, prospek pertanian memang untuk saat ini. Tetapi prospek kehutanan adalah untuk masa depan.

Cara pertama : Menanami daerah-daerah resapan. Daerah resapan air termasuk kawasan lindung*. Yang dinamakan daerah resapan adalah daerah yang saat hujan turun, tanah di bawahnya dapat menyerap air itu agar tidak terjadi aliran permukaan (surface run-off). Saya sangat menyayangkan para pejabat yang membuat villa-villa di bukit-bukit Gunung Salak. Dengan mengubah permukaan puncak bukit menjadi semen, tanpa pepohonan, maka seberapa air yang tidak bisa diserap, dan mengalir di permukaan, lalu menjadi banjir. Dengan menanami bukit-bukit itu, tanah kembali memiliki kemampuan daya serap sehingga air dapat terserap. Secara alami, akar pepohonan bahkan rumput dapat mengurangi aliran air permukaan. Maka, dengan menanam pohon dan tumbuhan lain, banjir dapat dikurangi.

Cara kedua : Perhatikan daerah aliran sungai (DAS). Daerah ini sangat penting, dan menurut Keppres no 32 tahun 1990 mengenai kawasan lindung, DAS merupakan kawasan lindung, dan tidak boleh ada perusakan di kawasan lindung. Jika DAS ini rusak maka tanah di kanan kiri sungai akan terbawa air, kemudian akan mengendap di dasar sungai. Hal itu berarti pendangkalan badan sungai yang dapat mengakibatkan banjir. Langkah lain mengenai DAS adalah naturalisasi. Naturalisasi adalah pembuatan kembali bentuk sungai secara buatan(retarding basin=daerah parkir air). Langkah ini pernah terjadi pada sungai Rhein di eropa karena dilakukan pelurusan sungai. Sungai dibuat berkelok kelok sehingga arus sungai dapat diredam dan tidak merusak tepi sungai. Pembetonan juga akan mengakibatkan percepatan aliran sungai sehingga sedimentasi juga lebih mudah terjadi.

Cara ketiga : Pemerintah harus tegas. Peraturan yang sudah ada sebaiknya dilaksanakan. Minimal ada tim yang kenar-benar kompeten yang mampu mengatur pelaksanaan UU, PP, Keppres, dll. Ketegasan itu juga harus adil. Bukan berpihak pada perseorangan, institusi, ataupun lembaga apapun. Dengan begitu, tidak ada protes dari masyarakat. Pemerintah juga harus percaya diri. Jika yakin bahwa keputusan yang diambil dan dilaksanakan benar, terus laksanakan. Tetapi juga dengarkan, dan terus perbaiki, tetapi jangan dihentikan. Terus konsisten, itulah kuncinya. Jika nanti ada hasil yang berarti masyarakat bakal akan ikut.

*Kawasan lindung disebutkan dalam keppres no. 32 tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan ini Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar pemukiman.Dan untuk sungai di kawasan permukaan berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 meter.





Banjir

21 10 2010

Setiap tahun, kota Jakarta yang dijadikan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian Indonesia selalu mempunyai masalah yang  sama. Selain macet yang sudah sangat parah, juga bencana banjir yang sudah seperti rutinitas datang ‘berkunjung’ ke Jakarta, dan menyebabkan kerugian yang sangat besar. Sepertinya, seiap tahun warga Jakarta harus menyisihkan sebagian keuangan mereka untuk mengganti perabotan dan bagian umah yang rusak. Dan ini harus merka lakukan rutin, mungkin dengan frekuensi yang bisa terus naik.

Setiap masalah pasti ada solusinya. Termasuk banjir ini. Banjir merupakan masalah lingkungan. Saat dahulu, Jakarta belum pernah banjir bukan? Itu berarti ada yang salah yang menyebabkan banjir bisa terjadi. Tapi gara-gara masyarakat Jakarta sudah ‘terbiasa’ dengan banjir, maka banjir dianggap sangat normal.

Penyelesaiannya datang dari alam. Begitu kata orang-orang dunia kehutanan. Memang benar, jawabannya datang hanya dari alam. Bukan berarti kita harus rela alam ‘berbuat sesuatu’ untuk kita, tetapi kita harus rela ‘berbuat sesuatu’ untuk alam.

Banjir adalah peristiwa penggenangan daerah –daerah yang dulunya kering karena ada peluapan air. Lalu, dari mana air ini berasal? Sebagian besar dari air hujan. Karena saking banyaknya,air hujan yang ditampung, badan sungai tidak lagi bisa menahan volumenya. Akibatnya, sebagian air yang berlebihan (overloaded) ini keluar dari jalur sungai dan menggenangi daerah aliran sungai (DAS), bahkan jika volume air yang berlebihan ini terlalu banyak, jarak genangannya bisa sangat jauh. Seperti di Jakarta, juga karena saluran air yang tersumbat, air luapan ini sampai menggenangi rumah warga bahkan fasilitas umum.

Tapi mengapa air hujan ini sampai begitu banyak? Apakah memang seperti itu banyaknya? Memang sebanyak itu. Tetapi, sebelum mencapai laut, air hujan ini terlebih dahulu akan diserap masuk ke dalam tanah (infiltrasi). Dan itu adalah tugas tumbuhan (hutan). Lalu, mengapa hutan tidak bisa menyerapnya? Hutan sudah jarang. Karena hutan sudah jarang, sehingga jumlah air yang terserap lebih sedikit setelah tanah jenuh (batas kapasitas serap tanah), air menggenang di permukaan. Karena ada perbedaan ketinggian, air di permukaan mengalir ke daerah yang lebih rendah (surface run-off), menuju sungai, dll. Tetapi, karena daya tamping sungai kecil, ditambah lagi dasar sungai yang sudah dipenuhi oleh sampai, air yang harusnya bisa masuk malah meluber dan menggenangi daerah sekitarnya. Terjadilah banjir.

Artikel berikutnya : Solusi Banjir di Tanah Air





Pentingnya Hutan Bagi Kehidupan

21 10 2010

Saat ujian, tiba-tiba saja saya tergelitik untuk menulis artikel tentang ini. Tentang pertanyaan yang di ajukan salah satu dosen. Ini benar-benar soal ujian. Pertanyaannya adalah apa fungsi hutan terhadap lingkungan, hewan dan manusia? Apa Anda bisa menjawabnya? Saya tidak akan memasukkan jawaban Anda ke dalam lembar jawaban saya karena tidak akan mungkin kan? Jadi akan saya jawab saja di blog ini.

NB: Tidak semua jawaban ini masuk lembar jawaban saya.

Fungsi Hutan untuk lingkungan

  1. Hutan sebagai pencegah berbagai bencana.

Dalam hal ini, hutan berfungsi sebagai penyeimbang dari segala gejala alam yang dapat menyebabkan bencana.

  1. Tanah longsor di berbagai tempat disebabkan karena tidak adanya vegetasi*) di daerah tanah yang lebih tinggi sehingga ketika hujan, air merembes ke tanah melalui celah celah retakan tanah sehingga tanah menjadi labil. Saat tanah sudah tidak kuat lagi menahan air rembesan, akhirnya tanah turun dalam jumlah banyak (longsor) dan menimpa rumah-rumah yang ada di bawahnya. Nah, vegetasi di atas berfungsi sebagai penstabil tanah agar tidak mudah bergeser dan meluncur (longsor).
  2. Banjir yang terjadi karena air hujan langsung turun ke dataran yang yang lebih rendah. Sebabnya lagi-lagi adalah karena hutan yang telah gundul atau rusak sehingga air yang harusnya diserap ke dalam tanah, malah turun tanpa hambatan, sehingga pada saat air itu sudah terkumpul banyak akan meluap dari sungai-sungai dan membanjiri pemukiman. Namun, juga ada faktor kebiasaan buruk manusia seperti membuang sampah sembarangan sehingga saluran air macet, dll. Hal-hal yang sering dianggap remeh tersebutlah yang akan membawa petaka. Hutan menyerap air hujan sehingga tidak mengalir di permukaan, sehingga mencegah banjir dan luapan air sungai.
  3. Abrasi yang terjadi karena hutan mangrove telah rusak. Pengeksploitasian hutan mangrove telah menyebabkan tidak adanya daya yang bisa menghambat laju air laut, sehingga abrasi dapat terjadi dan merugikan pengusaha tambak dan petani yang mengandalkan pasokan air dari air laut. Akar-akar pohon-pohon mangrove berbentuk tunjang yang menembus ke dalam pasir dan lumpur sehingga mampu menahan arus laut yang besar sekalipun.
  4. Global Warming. Inilah peristiwa alam sangat sering kita dengan akhir-akhir ini. Peristiwa ini terjadi karena peningkatan suhu udara sehingga es di kutub utara dan selatan mencair. Apakah selama ini es di kutub ini tidak pernah mencair? Pada saat musim panas, sebagian es mencair. Namun, karena adanya Global Warming ini, jumlah es yang mencair ini lebih besar dari biasanya. Sehingga perubahannya sangat terasa. Hutan menyerap berton-ton CO2 yang menjadi sumber penyebab Global Warming ini. Namun, karena banyak hutan yang telah dimusnahkan untuk berbagai alasan, akibatnya CO2 yang harusnya diserap kembali lagi ke udara dan mulai memanaskan suhu bumi ini. Maka, mari kita banyak menanam!
  5. Mengatur iklim mikro

Iklim mikro adalah iklim yang terjadi pada daerah yang kecil, lebih kecil dari iklim itu sendiri. Iklim mikro di hutan ditandai dengan adnya perbedaan sifat-sifat iklim yang mencolok antara di dalam dan di luar hutan. Perbedaan itu antara lain dari segi suhu, kelembaban, intensitas cahaya, curah hujan, dll. Semua itu bernilai positif di hutan. Artinya, iklim yang terbentuk di dalam hutan sangat cocok.

  1. Persediaan air, dan udara

Saat hujan turun, air tidak semerta-merta langsung menghilang. Namun, berkat adanya hutan, air itu berhenti di permukaan tanah hutan. Tanah hutan yang mengandung serasah daun dan sisa hewan sangat hebat dalam penyerapan air, karena memiliki pori-pori yang dapat menyedot air di permukaan ke dalam tanah yang kemudian muncul lagi menjadi mata air atau air tanah yang suatu saat dapat dimanfaatkan manusia sebagai air minum.

  1. Sebagai Windbreaker (pemecah angin)

Fungsi ini terutama dapat langsung dirasakan pada daerah-daerah  yang terbuka seperti perkebunan the Puncak, Bogor. Pada areal terbuka,angin yang berhembus sangat kencang. Saking kencangnya, tanaman-tanaman teh yng sedng tumbuh menjadi rusak, dan banyak daun-daunnya yang rontok, sehingga dibutuhkan pemecah angin, sehingga angin yang berhembus tidak secepat awalnya, sehingga tidak sampai merusak perkebunan teh.

Fungsi hutan untuk hewan

  1. Menyediakan pangan dan papan bagi hewan.

Di hutan, makanan-makanan hewan yang berasal dari tumbuhan dan hewan sangat banyak tersedia. Selain itu, hutan bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk mereka. Sehingga dapat dikatakan bahwa hutan adalah surga bagi hewan.

  1. Menjaga populasi hewan

Dengan adanya hutan yang menjadi  rumah bagi hewan, hewan menjadi aman, tidak terancam dari kepunahan. Bedakan dengan hutan yang sudah rusak, sehingga makanan hewan tertentu sulit didapat, sehingga perlahan-lahan mengurangi jumlah spesiesnya, sehingga suatu saat dapat punah. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak hewan yang telah punah sebelum diketahui fungsinya untuk kita dan lingkungan.

 

Fungsi hutan untuk manusia

  1. Makanan

Di hutan, berbagai macam makanan ditemukan dan dimakan oleh manusia, khususnya pada awal-awal kehidupan manusia. Sumber yang melimpah dan keanekaragaman makanan membuat manusia tidak akan merasa kekurangan. Namun, apakah sampai sekarang alasan ini masih bisa diterima? Masih. Dan mungkin akan semakin besar kebutuhan manusia akan makanan yang berasal dari hutan. Setiap makanan yang kita makan, termasuk beras adalah segala makanan yang berasal dari hutan yang kemudian dikembangkan sebagai bahan makanan pokok. Tanpa hutan mungkin makanan yang ada hanyalah hasil sintetis. dengan adanya hutan, dan segala sumber makanan yang belum diketahui, semakin beragamlah makanan itu, bukan hanya apa yang diketahui sekarang. Ingat, potensi hutan untuk itu sangat besar.

  1. Obat-obatan

Ditemukan semacam tumbuhan berbunga di daratan Afrika yang menjadi penyelesai atas penyakit leukemia yang sangat ganas. Juga ditemukan pula sebangsa pandan (Pandanus sp) yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Dua hal itu adalah secuil harapan yang bisa kita dapatkan jika kita tetap melestarikan hutan. Di hutan terdapat jutaan spesies tumbuhan dan hewan yang masih belum kita manfaatkan dengan maksimal karena KITA BELUM TAHU MANFAATNYA. Dan itu sangat menakjubkan. Jika seandainya saja kita bisa meneliti satu persatu, mungkin salah satunya akan kita temukan anti-HIV/AIDS (obat AIDS) yang sangat dibutuhkan oleh manusia di dunia. Apa alasan ini masuk akal?

  1. Rekreasi

Kita tahu, Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki hutan paling eksotis di dunia, hutan Tropis. Masyarakat dunia berbondong-bondong berkunjung ke Indonesia hanya karena ingin melihat hutan tropis, dan segala keajaibannya. Inilah yang harus kita lihat. Potensi ini, sehingga banyak lapangan kerja baru dapat terlahir, dan kemiskinan juga akan berkurang. Namun, satu yang harus kita perhatikan, peraturan yang dibuat di hutan wisata agar hutan tetap bersih, dan tidak rusak, harus ditaati. Itu semua agar hutan kita tetap akan menghasilkan uang.

  1. Ilmu dan peneitian

Ini mungkin salah satunya berhubungan dengan poin 2. Namun, kita generalisasi saja, hutan sumber ilmu. Bukan hanya ilmu biologi! geologi, geografi, klimatologi, bahkan fisika juga ada di hutan. Setiap tanahnya, udaranya, airnya, tumbuhan dan hewannya, pasti berarti sesuatu jika kita pelajari. Yang jelas, hutan tidak akan diciptakan sia-sia untuk manusia oleh Tuhannya, Allah swt. Sekli lagi kita harus banyak bersyukur. Alhamdulillah…

  1. Udara, dan air

Dua sumber kehidupan kita. Semuanya ada dihutan, hutan menjaganya dan hutan yang membuatnya. Maka, kita patut berterima kasih kepada hutan (terima kasih!). tanpa hutan, tidak ada Oksigen, tidak ada air.  Oksigen berasal dari hasil fotosintesis yang banyak (sangat) terjadi di hutan. Air berasal dari infiltrasi, penetrasi air hujan oleh hutan yang kemudian keluar lagi menjadi mata air. So, No Forest, No Life.

  1. Mata pencaharian

Sudah disinggung di poin 3. Juga ada hutan tanaman rakyat (HTR) yang menguntungkan rakyat di sekitarnya, ada Agroforestry, ada system tumpang… semuanya menguntungkan. Dan pasti menambah mata pencaharian masyarakat. Yang kreatif, yang peduli…

 

Fungsi hutan untuk Tumbuhan itu sendiri

  1. Penyerbukan

Ada salah satu pohon hutan yang sudah sangat tua, dan hanya ada satu-satunya di hutan tempat ia berdiri. Pohon itu berbunga, berbuah, namun tidak pernah sampai tumbuh saat jatuh ke tanah. Mengapa? Setelah diteliti oleh ahli botani, ternyata pohon itu merindukan satu hewan hutan yang telah lama punah karena perburuan gelap. Dan uniknya, biji pohon itu hanya akn berkecambah setelah masuk ke dalam perut hewan itu. Jadi, pohon itu tidak akan pernah bertambah, menunggu kepunahannya. Itu salah satu contoh yang bagus untuk menunjukkan betapa hutan dibutuhkan tumbuhan di dalamnya untuk penyerbukan.

  1. Tanah yang penuh hara

Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat warna tanah hutan yang hitam yang berarti banyak zat hara di dalamnya. Tanah hutan juga satu-satunya yang masih memiliki lapisan O (lapisan humus). Selain hutan, tidak ada lagi ekosistem yang memiliki lapisan O pada tanahnya, termasuk tanah sawah. Sebabnya adalah karena banyak serasah daun, dll. Tanah hutan juga memiliki kondisi yang sempurna untuk pertumbuhan. Gembur, banyak mikroba, KTK tinggi, kelembahan bagus, pori tanah banyak, dll. Semuanya medukung pertumbuhan tumbuhan hutan.

  1. Iklim mikro

Saat kita masuk hutan, ada rasa dan hawa yang lain dibandingkan saat kita keluar hutan. Entah sejuk, lembab, dingin, dll. Inilah yang disebut iklim mikro. Suatu perbedaan kondisi alam dengan daerah sekitar hutan. Iklim ini baik untuk tempat tumbuh tumbuhan. Dengan keadaan iklim ini, biji akan cepat berkecambah dan pertumbuhannya akan melesat.

 

Semoga saja bahasan ini bisa membuka cakrawala kita tentang betapa pentingnya hutan bagi kehidupan kita, dan tidak ada lagi pertanyaan konyol mengenai kenapa hutan tidak boleh ditebang? Boleh, asal tidak berlebihan. Atau pertanyaan apa gunanya hutan? Toh tidak menguntungkan bagi kami, para pengusaha? Nah, jika terjadi bencana alam, dan itu mengakibatkan usaha Anda bangkrut? Apa anda masih tidak peduli hutan?… Dan masih banyak yang lainnya. Pokoknya memang usaha-usaha kita terhadap hutan adalah usaha-usaha yang bersifat preventif (pencegahan), bukan akan kita rasakan secara langsung, namun efeknya pasti akan terasa di masa depan.

Next Blog : Riap Pohon, dan Hutan sebagai mata pencaharian.

Kembali ke Halaman Muka

 

 





Mengukur Tingkat Kerusakan Hutan dengan Teknologi Google Maps

14 10 2010

Pencitraan suatu area untuk mengetahui suatu potensi ataupun menilai masalah dalam bidang kehutanan adalah salah satu yang sangat penting dan banyak dibutuhkan. Karena dengan adanya pencitraan (penginderaan jarak jauh), maka kita bisa mengetahui lebih detail mengenai hutan, sehingga dapat kita putuskan suatu area hutan akan kita beri perlakuan apa.

Pada saat awal ditemukan cara penginderaan jarak jauh (indraja), para peneliti masih mengalami kesulitan yang cukup berarti, terutama mengenai dana yang digunakan untuk melakukan penginderaan. Penginderaan dapat dilakukan menggunakan pesawat kecil berkamera yang dikendalikan berkeliling-keliling di atas daerah yang ingin dinilai dan di survei. atau juga bisa menggunakan pencitraan satelit yang pastinya membutuhkan dana yang tidak sedikit dibandingkan dengan penggunaan pesawat terbang.

Namun, teknologi semakin lama semakin berkembang. Perkembangan teknologi ini sudah seharusnya mampu kita gunakan sebaik baiknya untuk tujuan yang lain, salah satunya indraja ini. salah satu teknologi yang saya anggap sangat membantu adalah adanya fasilitas ‘sampingan’ dari raja search engine, Google.inc. Google, sebagai perusahaan yang besar selalu mengembangkan gadget-gadget baru yang sangat inovatif, kreatif dan useful. salah satunya adalah Google Maps yang fenomenal.

Google Maps adalah suatu layanan pengindraan jarak jauh yang menggunakan satelit untuk pengambilan gambar suatu obyek ataupun area, berkerjasama dengan ………………. . Layanan ini dapat dibilang sebagai sebuah terobosan, karena hanya dengan menggunakan layanan ini,kita bisa mengakses peta bumi secara digital yang berasal dari satelit dan menggunakannya untuk keperluan penginderaan jarak jauh di seluruh dunia. Dengan hanya memiliki akses internet yang relatif cepat, kita bisa mengetahui di manakah hutan kita yang rusak, atau seberapakan penutupan hutan kita dibandingkan dengan bangunan. Dan layanan ini juga gratis, jika dibandingkan dengan pencitraan satelit aslinya yang membutuhkan biaya ratusan ribu bahkan jutaan untuk satu kali foto udara menggunakan satelit. Sungguh menakjubkan.

Dengan Google Maps, kita juga bisa mengetahui laju kerusakan hutan, karena Google Maps ini selalu diupdate pada jangka waktu tertentu. sehingga, nantinya kita bisa membandingkan, dengan memasukkan faktor skala, seberapa cepat kerusakan hutan yang menurut catatan dunia yang didapat oleh Greenpeace , Indonesia merupakan negara perusak hutan tecepat di dunia. dalam satu menit setara dengan 6 buah lapangan sepak bola telah rusak karena illegal logging, pengkonversian lahan menjadi kelapa sawit, persawahan, pertambangan, perumahan, dll. sehingga, dengan adanya Google Maps ini, kita bisa mencari cara terbaik agar hutan kita dapat kembali lestari.

 





Mari Peduli Hutan

15 06 2010
Diambil dari http://news.bbc.co.uk

Hutan yang pada zaman dahulu menyelimuti seluruh daratan yang ada di bumi, memiliki fungsi yang sangat besar dalam kehidupan ini. Dari hewan, tumbuhan itu sendiri dan juga kita, manusia, sangat erat hubungannya dengan keberadaan hutan di dunia. Tanpa hutan, kita akan mati. Tanpa hutan, tidak akan ada lagi kehidupan. Sehingga dapat kita bayangkan ketika hutan kita lenyap, dan tidak ada lagi satupun tumbuhan yang tersisa di dunia. Maka, pasti tidak akan ada lagi manusia di dunia, walaupun kita sudah memiliki teknologi yang sangat mutakhir, bisa merajai dunia ini, tetapi pasti karena kesombongan kita merusak hutan, kita akan merasakan akibatnya kelak.

Sekarang, hutan kita telah sekarat. Hutan kita sedang gencar-gencarnya dihancurkan demi kepentingan ‘kehidupan’ kita. Kita, manusia demi barang yang kita namakan uang, mau melakukan apa saja demi hidup mereka, termasuk merusak hutan yang sebenarnya adalah kehidupan kita yang sesungguhnya. Dengarkah Anda bahwa setiap hari, hutan kita berhektar-hektar musnah? Dengan penebangan, pembakaran yang pada tahun 1992/93 dan tahun1997/98 sangat parah, sampai-sampai Negara tetangga protes gara-gara asapnya sampai ke Negara mereka…

Tidakkah Anda berpikir untuk menyelamatkan hutan kita segera? Sebelum terlambat, sebelum kita baru menyadari bahwa kita sangat butuh hutan… bahwa kita tidak bisa hidup tanpa hutan… bahwa hanya dengan menjaga hutan, kita bisa survive (selamat) dari berbagai bencana yang sekarang sudah sangat sering terjadi…  kita tidak sadar bahwa selama ini kita yang menimbulkan bencana! Bukan Tuhan…. Kita yang membuat air yang biasanya tenang itu tiba-tiba bergolak dan menelan ratusan rumah di seluruh Indonesia…

Salah satu dosen kami pernah menceritakan sebuah lelucon sebagai berikut :

“Mengapa Jakarta setiap tahun selalu banjir?”

“Karena hujan kiriman Bogor!”

“Salah, jawabannya kurang tepat!”

“Lalu, apa yang benar?”

“Karena hujan pesanan Jakarta” (Lalu seluruh peserta kuliah tertawa)

Jadi, mengapa? Banyak alasan. Salah satunya adalah banyak orang Jakarta yang ke Bogor karena ingin membuat Villa yang nyaman. Salahkah? Tidak salah. Namun, yang salah adalah kebiasaan mereka membuang sampah di air sungai. Mereka tanpa disuruh sudah mau merusak lingkungan mereka sendiri. Sadarlah. Kemudian juga mereka membuat Villa di daerah-daerah resapan air (tempat infiltrasi air hujan), salah satunya di Puncak, Bogor. Tahukah Anda bahwa sekarang lebih dari seratus rumah telah berdiri di puncak bukit yang dulunya adalah daerah resapan? Memang seperti itulah fungsi bukit. Untuk tempat meresapnya air ke dalam tanah. Jika di bangun rumah dari beton dan bata, di mana lagi mereka akan meresap karena tanah yang berpori-pori telah berganti dengan beton yang kedap (baca: tidak bisa tembus) air? Pasti mereka akan turun ke bawah. Jumlahnya terus bertambah, lalu pada saat-saat terakhir (saat sampai di Jakarta), air itu sudah sangat banyak sekali berkumpul sehingga terendamlah Jakarta dengan segala keangkuhannya.

Peristiwa sama terjadi di Kalimantan. Mengapa Kalimantan yang dahulunya penuh dengan kedamaian kini terdengan berita sedang kebanjiran? Apakah masuk akal? Ya, jika sekarang. Karena sekarang keadaanya berbeda. Hutan-hutan di kalimantan, khususnya di Kalimantan Tengah sudah banyak yang gundul. Sehingga seperti kejadian di Jakarta, air hujan tidak jadi diserap oleh hutan yang dahulunya ada, lalu turun ke bawah di sekitar Kalimantan Selatan dan daerah dataran rendah lain dan menjadi  banjir.

Kita juga bisa lihat bencana tanah longsor. Sebabnya tak lain adalah karena hutan di daerah itu sudah banyak yang ditebangi sehingga tanah yang labil (mudah bergeser dan meluncur turun) setelah terkena air benar-benar menjadi longsoran yang menimbun puluhan rumah di bawahnya. Tanah-tanah itu sudah tidak ada yang menahan. Pohon-pohon sudah jarang, lalu siapa yang akan menahan? Apakah kita mau menahan tanah-tanah itu agar tidak longsor tanpa dibayar? Hutan mau melakukannya. Tapi apa yang kita lakukan?

Belum lagi bencana kekeringan di berbagai daerah di Indonesia. Apa lagi sebabnya? Lagi-lagi karena hutan yang berfungsi sebagai tempat resapan telah hancur, sehingga tidak ada lagi air tanah, tidak ada lagi sumber mata air yang akhirnya menjadi sungai yang jernih airnya. Ketika hutan-hutan itu telah rusak, air yang seharusnya diserap langsung pergi begitu saja, dan tidak ada yang diserap. Tanah tererosi sehingga di beberapa daerah jadi tidak bisa ditanami (lapisan humus/tanah suburnya habis terkikis air). Lalu panen gagal, dan yang lebih mencengangkan lagi adalah yang saya sebutkan di atas, sungai kering sehingga terjadi kekeringan pada musim kemarau yang seharunya tidak boleh terjadi.

Lalu, adanya Global Warming. Apakah ini juga berkaitan dengan kerusakan hutan? Jelas tentu. Salah satu fungsi hutan lain adalah menyerap CO2 kan? Lalu, apa yang akan terjadi jika CO2 itu tidak terserap? Maka akan banyak CO2 di udara. Sehingga sesuai proses terjadinya efek rumah kaca (Green House Effect), CO2 menyebabkan panas (gelombang panjang) dari cahaya matahari (gelombang pendek) menjadi terperangkap dan tertahan di atmosfer (lapisan-lapisan udara) bumi, sehingga, seperti merebus telur di oven, akan cepat sekali terasa panas karena panasnya tidak bisa keluar. Panas itu, seperti panas panas lain akan mencairkan es kutub (bayangkan seperti es krim yang diletakkan di panas terik). Volume air bertambah, laut naik, kemudian ada berita sebagian pulau kecil telah tenggelam, dan ombak semak besar dan sering terjadi, kapal-kapal laut terhambat di pelabuhan karena tingginya ombak, tambak-tambak ikan rusak, panen ikan sedikit, nelayan menuntut, dan kondisi lain yang akan terus berdatangan.

Lalu, apa kesimpulannya?

Jangan pernah berpikir untuk merusak hutan setelah anda membaca blog ini…